Minggu, 11 April 2010

Ritual Pagi






If people were meant to pop out of bed, we'd all sleep in toasters.
(Anonymous)


Bangun pagi sering jadi masalah untuk banyak orang, termasuk buat saya. Membuka mata, terutama setelah akhir pekan seperti pagi ini, rasanya berat sekali. Setelah terbangun pun, sepertinya selalu ada sejuta kekuatan yang menggoda saya kembali ke dalam tidur panjang. Tentu saja, setelah sebelumnya saya mengirim SMS ke si bos dan memberi tahu saya merasa tidak cukup "sehat" untuk bekerja hari itu.

Ada beribu cara yang ditawarkan artikel di berbagai majalah untuk memulai hari. Sayangnya, artikel-artikel itu tidak pernah menarik perhatian saya. Mungkin karena saya sudah tahu benar bagaimana "ampuhnya" artikel tips setelah dua tahun bergelut sebagai redaktur feature. Hal yang justru lebih membuat saya penasaran adalah ritual pagi setiap orang.

Rasa penasaran ini muncul ketika saya melihat kebiasaan teman sekamar saya yang terbilang ajaib. Pasalnya, setiap pagi, dia selalu jadi yang terakhir bangun. Tapi, begitu terbangun, matanya nggak berhenti menatap layar Blackberry dan tangannya dengan lincah men-scroll down
timeline si burung kecil bernama Twitter. Sepertinya, bagi kawan saya ini, tidak lengkap rasanya memulai hari tanpa mengetahui apa yang terjadi pada dunia pagi itu. Baginya, membaca timeline, sama seperti membaca koran atau menonton berita di pagi hari. Only better!

Kawan saya lainnya butuh setidaknya beberapa menit untuk bengong setelah terbangun. Menurutnya, tujuan dari aktivitas bengong itu adalah mengumpulkan nyawa dan kemudian membeberkan daftar panjang hal-hal yang harus dilakukannya hari itu. Tak heran, kawan saya yang satu ini, memang terbilang cukup pandai mengatur banyak hal dalam hidup.

Lain lagi ceritanya dengan kawan saya yang belum lama saya kenal. Hal yang pertama dia lakukan setelah membuka mata adalah berlari ke kamar mandi dan menyikat gigi. Ajaran sang ibu untuk tidak berbicara apa pun kepada siapa pun sebelum menyikat gigi, rupanya masih melekat di dirinya. Walaupun menurutnya, tidak jarang ia kembali ke tempat tidur dan bermalas-malasan lagi.

Saya sendiri terbiasa bangun dan memandang satu titik atau benda di kamar saya. Biasanya titik atau benda itulah yang akan menguraikan hubungan satu hal dengan hal lainnya, dan kemudian menghubungkan saya dengan dunia nyata. Misalnya saja pagi ini saya terbangun dan memandang deodorant yang saya letakkan di samping TV. Saya jadi langsung teringat harus segera membeli yang baru karena yang lama sudah hampir habis. Itu berarti saya menyempatkan diri mampir ke minimart terdekat setelah kantor.

Ritual pagi, seberapa pun unik, aneh atau bahkan biasa saja, tetap menarik untuk saya. Bukan hanya karena memberi semangat untuk memulai hari, tapi juga karena itu memberi identitas kepada saya dan siapa saya. Makanya, rasanya tidak mungkin hal itu disamaratakan atau dibuat rambu-rambunya seperti artikel-artikel di majalah.















1 komentar:

  1. hehe.
    hai, Bo.
    hanya mau berbagi.
    mungkin terdengar terlalu agamis atau apa, tetapi inilah kebiasaan saya ketika bangun tidur: berdoa. itu yang selalu diajarkan mama. :) setelah itu tidur lagi atau ngecek twitter atau langsung beranjak ke kamar mandi, tidak jadi soal. believe me, it feels great! :D

    BalasHapus